Melihat tawa dan senyummu mengingatkanku
saat pertama mengenalmu
aku mengenalmu tanpa sengaja
mencoba akrab denganmu
dan akhirnya menjalin sebuah persahabatan
kita selalu menjalani hari-hari bersama
meskipun kita sering kali bertengkar hanya karena sebuah hal
tak pernah menyimpan dendam dihatiku
setelah beberapa waktu, aku paham..
kau mempunyai kekurangan-kekurangan
dan bagiku semua itu kelebihan, begitu juga sebaliknya
karena itu kita selalu melengkapi satu sama lain
kau rubah air mataku menjadi sebuah senyuman
jika esok aku tlah tiada
maafkan semua kesalahanku
kau adalah sosok yang sangat berarti dalam hidupku
tawamu selalu membuatku bahagia
karena itu..
kutempatkan "KEDUDUKAN SAHABAT JAUH DIATAS CINTA"
karena sahabat lebih mengerti arti dari setiap tetes yang jatuh dari mata ini
dan ingin kau tahu, bahwa
"aku bahagia mempunyai sahabat sepertimu"
Selasa, 14 Mei 2013
Sabtu, 09 Februari 2013
B A R A
Malam kian larut dengan lantunan gerimis. New Bridge road
yang biasanya ramai dengan orang yang bersiur kini langgeng. Hanya satu dua
orang yang telihat melintas menembusi tetesan gerimis. Sekilas angin menerpa
pelan, dingin pun menyergap tiap celah pori-pori. Aku anganku yang pupus
barangkalitak ubahnya seperti asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungku,
mengumpul perlahan hilang dari pandangan, berbaur dengan resahku. Aku mendesah
resah. Akan datangkah ia menepati janjiyang diucapkannya kemarin malam? Disini,
di tempat yang sama. Gelisahku semakin terasa, saat sepasang kekasih lewat
didepanku, berangkulan dan hanya sepayung. Kembali kuhisap rokokku. Kembali
seperti tadi lagi, asap menggumpal lalu sirna perlahan. Kupandangi ujung jalan
tempat dia biasa muncul. Tak ada siapa-siapa. Membuatku semakin gelisah.
Ternyata benar apa yang dikatakan orang, menunggu adalah pekerjaan yang sangat
membosankan. Perlahan lamunanku melayu. Merembesi kisi-kisi waktu, berlabuh
disebuah titik masa dimana, masa pertama aku mengenalnya.
Kukenal nama gadis Cina itu dengan nama Ina. Gadis yang
menurutku unik ditengah hinarnya Singapore. Pertemuanku dengan Ina tak
seromantis yang digelarkan dilayar-layar perak. Pertemuanku itu, di Merlion
Park, diantara orang yang sibuk memadu kasih, mataku terbentur pada sebuah
lukisan alam. Seorang gadis manis, duduk sendirian disebuahn kursi taman,
menikmati senja dan patung ikan berkepala singa didepannya, ditangannya yang
mungil tergenggam erat seperangkat bunga melati. Aku dengan membawa sedikit
harapan duduk disisinya. Memandang apa yang ia pandang, belajar menikmati apa
yang ia nikmati. Gadis itu menoleh kearahku, sekejap dan tanpa senyum. Kami
saling diam hanyut dihalusinasi masing-masing. Kehening itu berakhir ketika ia
berbicara dengan suara yang merdu dan kefasihan bahasa inggrisnya yang enak
didengar.
“Apa yang kamu rasakan jiwamu saat kamu melihat laut
merah seperti senja ini?”, tanyanya.
Semula aku ragu, apa pertanyaan itu ditujukan untukku
atau bukan. Tetapi setelah kusadari bahwa disampingnya hanya ada aku, setelah
ia menatapku dengan tatapan persahabatan, membenarkan bahwa pertanyaan itu
untukku, baru aku menjawabnya.
“Melihatnya seperti melibatkan diri pada sebuah alur yang
misterius. Menenggelamkan kita dalam angan dan aneka rasa. Ada gundah resah dan
gairah. Merahnya seperti jelmaan dari mimpi-mimpiku yang terbakar dan apa yang
kamu rasakan, nona?”
Dia menggerakkan poninya lalu memandangku dengan suka.
Kali ini aku bisa menikmati kecantikan yang sempurna. Senja semakin jatuh.
“Aku suka disini, hana untuk menikmati beralihnya sore ke
senja. Pada masa transisi itu aku temukan kebahagiaan tersendiri. Sepertinya
aku temukan diriku pribadi. Justru aku sering menjadi sosok yang lain. Padahal
seorang penyair Tunisia pernah berkata, ikuti kata impianmu maka akan kau temui
kebahagiaan yang engkau dambakan. Aku coba yang ia katakan. Kuikuti kata
impianku, berjam-jam aku duduk disini, sejenak, ternyata kutemukan yang kau
cari.”
Aku terpaku. Aku temukan lagi fenomena yang berharga,
ternyata diderasnya modernisasi, kemanusiaan dan ajaran-ajarannya tiada bisa
terabaikan. Gadis disisiku, yang kemudian diketahui bernama Herluna Clow
menimbulkan getar yang lain dijiwaku. Tentang pandangannya.
“Didalam kehidupan ini, kita akan selalu dihadapkan pada
pilihan-pilihan. Memilih yang ini atau yang itu. Sedangkan bila kita enggan
berarti kita telah memilih pilihan yang lain. Memang tidak menyenangkan.
Sepertinya kita harus pasrah pada alur takdir. Tapi itulah realita
sesungguhnya. Hari akupun telah memilih sesuatu, al”, kata Ina.
“Apa pilihanmu itu?”
“Belajar menyukaimu dan
mengakrabimu.”
“Kenapa mesti aku?”
“Entahlah, aku hanya ikuti kata
impianku. Kata hatiku.”
“Sebagai relaksasikah In?”
“Mungkin tidak, toh hidup mesti dinikmati seadanya.”
Semenjak pertemuan sore itu kami sering mengadakan
pertemuan-pertemuan yang lain. Kesamaan pandangan membuat kami serasi, saling
memerlukan dan jatuh cinta. Persahabatan pun berubah makna. Saksi satu-satunya,
pendeta atas segalanya, hanya masa. Inapun semakin akrab dihariku. Ternyata
selain cantik, Ina anak seorang pengusaha kaya plus seorang mahasiswi fakultas
sastra Jerman di Nanyang Techological Institue. Sedang aku? Pernah ku paparkan
perbedaan itu padanya.
“Aku tidak kaya In.”
“Aku tidak perlu harta Al.”
“Aku lain bangsa dengan mu, lain
agama, lain idealis, lai...”
“Toh kamukan manusia juga,
sepertiku. Bukankah manusia dimana-mana sama?”
“Tapi, sungguh aku risih.”
“Cinta agung Al. Cinta menghapus segala perbedaan.
Percayalah aku sayang kamu.”
Lamunanku buyar ketika sebuah mobil berhenti dijalan tak
jauh dari tempatku duduk. Seseorang keluar dari mobil Corolla putih itu,
ternyata Ina. Ina menghampiriku lalu duduk di sisiku, kepala disandarkannya
dibahuku.
“Sudah lama?”
“Lumayan, kenapa tidak seperti
biasanya bawa-bawa mobil, mau ke kondangan ya?”
“Tadi aku ikut papi ke Newton, pulangnya langsung kesini.
Ngobrol ke Merlion yuk.”
Aku tak biacara apa-apa. Aku hanya menatap malam yang tak
lagi gerimis. Yang aku lakukan hanya bangkit, mencium kening Ina, merangkulnya,
menuju mobil.
“Menikmati malam tak ubahnya seperti melakukan pekerjaan
batin. Pada heningnya sebuah suasana kita melibatkan perasaan. Gairah yang
mendidih juga sesal yang berkepanjangan. Bicara tidak lagi perlu kata-kata.
Kita cukup hanya memandang bintang gemintang, bercerita pada embun,
lalubertanya pada kelam yang kian akrab, esok bawa cerita apa?, tentang anggrek
dan camar, ataukah luk?, Ona berceloteh seperti bergumam.
Aku kecup jemari tangannya. Tengah malam telah berlalu.
Satu persatu embun mulai menghiasi dedaunan di taman. Hening, Merlion Park pun
hening.
“Tahukah kamu apa yang dibisikkan
ombak kala lidahnya menjilati pantai?”, tanyaku. “cerita tentang hidup yang menjenuhkan.”
“Juga tentang kita In.”
“Kita?”
“Ya kita, kamu dan aku akankah bisa bertahan? Disishkan
masa melangkah diarah yang tak pasti.”
Ina mempererat rangkulan tangannya ditanganku.
“Kita mempunyai banyak impian Al”
“tercapaikah seberang impian itu
bila sayap berkepak tak senada?”
“Jangan lagi bicara. Dihening ini selayaknya kita diam.
Mendengarkan bisikan dedaunan, mendengarkan nyanyian malam, agar kita temukan
esok yang lebih baik. Bukankah hidup pada hakekatnya bicara atau pundiam tetap
mengikuti garis merah takdir. Berusaha atau bermimpi tetap terkapar, memandang
dan menjalani takdir pribadi.”
Aku diam menatap air yang tak begitu beriak diatasnya
sebuah perahu pesia berlayar pelan. Barangkali ingin menikmati sudut-sudut
Singapura di kala malam.
“Aku tak ingin berpisah lagi dengan
mu Al”
“Berarti kamu tolak kesempatan itu.”
Resah menyergapku. Aku gelisah. Adakah cinta seperti yang
sering kudengar, sebuah persembahan untuk yang terkasih.
“Ina, terus terang aku pun sayang
kamu. Cinta yang kita miliki membuai kita kealam dewa-dewa. Serba menyenangkan.
Tapi hidup tak punya makna tanpa unsur lain. Hidup tak cuma perlu cinta. Ada yang
lebih penting dan bermakna.”
“Maksudmu?”
“Janganlah hendaknya keterlibatanku
dihidupmu memberatkan kamu dalam memilih apa yang terbaik dalam hidup
pribadimu. Kamu terpilih untuk memperdalam ilmu di Berlin Barat, itu sebuah
kesempatan. Tahukah kamu bahwa kesempatan datangnya hanya sekali. Saranku In,
genggam dan jalanilah. Disanapun kamu bisa menikmati malam. Bukankah malam
katamu dimanapun sama?”
“Kamu tak suka aku disini Al?”
“Bila boleh memilih aku memilih
untuk selalu disisimu.”
“Lalu?”
“Akhirnya kita berpulang kemerah garis takdir kita. Percayalah
bila ada jodoh takkan lari kemana.”
Waktu terus berpacu. Malampun kian terusir. Aku membelai
rambut Ina sedih dijiwa.
“Cinta seperti bara.” Bisikku.
“Ya. Menggenggamnya erat berarti membiarkan diri sendiri
terluka.”
Akhirnya gadis manis itu pergi juga. Aku mengantarkannya
hingga Chagi Airport. Di ruang tunggu lama kami saling diam. Mata orang
terkasih itu berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Sedihpun bergayut di kalbuku.
“Apa yang ingin kamu katakan,
katakanlah Al. Selagi masa belum memisahkan kita semakn jauh.”
Aku
tersenyum kecut.
“Aku ingin memakimu.”
“Atas dasar apa?”
“Atas cinta yang terbengkalai, atas
hati yang tergores resah atas malam yang nantinya bakal ku lewati sendiri.” Ina
tersenyum tetapi dimatanya yang indah itu ada tetes air mata.
“Hanya itu Al?”
“Jaga dirimu baik-baik. Kenanglah aku. Kita pernah lewati
malam panjang bersama. Bukankah impianmu yang terakhir adalah menikmati malam
bersamaku, suatu ketika nanti, di negeriku tercinta?”
Ina tersedu didadaku. Lama. Akhirnya rengkulan berakhir
juga. Ina meninggalkanku tanpa kata perpisahan. Aku termangu, hampa, sepertinya
ingin menangis. Aku jadi ingat, setahun yang lalu di kotaku, seorang gadis
manis pernah mengantar kepergianku dengan tersedu.
Ketika pesawat yang ditumpangi Ina mengudara, aku
berjalan resah. Mengikuti ajakan kakiku dengan seribu tanya dikepala. Tentang hidup,
takdir dan kesetiaan. Apakah hanya seperti yang kubisikkan pada Ina... Bara?
Elva Edison
Kasih yang Dalam
Angin berhembus dari arah Eropa Selatan,
melintasi pegunungan Alpen yang menjulang di perbatasan Italia dan Swiss. Udara
membawa butir-butir salju, menebar di sepanjang negeri Belanda, di lapangan
rumput, dan tulip, dan sebuah flat : Herenstraat 132.
Anne masih saja menuangkan Mansion ke
dalam gelasnya. Entah sudah berapa kali ia menjejali mulutnya dengan anggur
Jamaika itu, sejak salju pertama turun awal Desember lalu.
"Ayolah Jo, ini lebih enak dari kopi
Sumatra-mu," katanya bangga. "Gurih dan memberi rasa
hangat."
"Juga memberi rasa mual,"
sambutku. Dia tertawa. Bibirnya melengkung di sudut. "Mau kutambahkan sedikit
bir, Jo?". Aku menggeleng.
"Mungkin rempah atau sari buah?
Kujamin mualmu bakal hilang !". Sekali lagi aku menolak. Anggur Jamaika
selalu membuat perutku mual. Kopi dan bubuk teh lebih banyak merebut pagiku.
Dan gadis ini selalu terbahak-bahak setiap kali aku menyeduhnya.
"Jo.
"Ya."
"Bisakah kau membayangkan aku
kehabisan gin di musim salju ini?". "Kukira kau akan memeras Tulip
dan memeras sarinya."
"Dia tertawa, lantas menarik
gorden. Leiden terpampang berlumur salju. Fakultas Sastra dan Filsafat
terbungkus putih, seperti menyambut turunnya bidadari. Dan tiba-tiba aku hanya
bisa tersenyum ketika ingat kata Sulasro dulu. Katanya bidadari Eropa lebih
putih karena sering terkurung salju, tapi terlalu kaku untuk ukuran Asia.
"Kau lihat salju itu, Jo?"
Anne menunjuk ke luar jendela kaca. Salju menaburi jalanan sepanjang asrama
mahasiswa yang tegak di tengah kota. Beberapa mahasiswa menyebrangi perempatan
jalan Langeburg. Kebanyakan berpayung dan mantel, bahkan sepatu bot.
Salju memang tidak seganas biasanya di
bulan Januari. Orang masih bisa merayakan natal dan Tahun Baru di taman-taman
kota. Bahkan beberapa mahasiswa meyempatkan diri berlibur ke Paris dan Swiss.
Mereka tidak harus terkurung di flatnya yang sumpek.
Anne memegang tanganku. Jemarina dingin.
Dan kuingat lagi legenda bidadari Eropa itu.
"Salju memberi rasa aman,
tenang, seperti menjanjikan pertemuan yang mengesankan," cetus Anna
puitis. "Kau suka, Jo? Ini saat yang paling tepat untuk memulai percintaan
romantis."
"Kukira kabut pagi di Indonesia lebih
indah lag dari pada saljumu," aku membandingkan.
Dia menatapku. Rambut pirangnya mengerebas
sampai ke bahu. Aku meraih Angrek yang menguning di sisi jendela, lalu
melemparnya ke jalanan.
"Kau tahu, Jo? Tak ada yang menarik
perhatianku melebihi salju. Putih, basah, seperti cinta yang dalam."
"Kau belum melihat puncak
Tidar, Anne. Gunung paling romantis di negeriku. Sebuah telaga, sungai jernih,
dan Edelweis. Kau pasti bilang terlalu indah untuk pasangan yang
bersahabat." Anne mengulum senyum.
"Kau tidak sedang mimpi Salzburg,
kan?" tudingnya. Ia sering cerita tentang pesona Berry dan Edelweis
Austria di musim salju.
"Kau kira hanya Austria yang kaya
Edelweis?" sergahku. "Indonesia gudangnya bunga-bunga cantik.
Coba, bunga apa yang bisa membuatmu tertawa! Kaktus? Asoka? Kau bisa menemukan
semuanya di sana. Mereka jauh lebih anggun dari gadis-gadis Amsterdam."
Anne menggeleng. senyum sempitnya
mempertontonkan keyakinan diri yang luar biasa. "Aku tak yakin sebuah
bunga akan berkembang baik dalam masyarakat yang begitu primitif,"
Ujarnya.
Aku tertawa keras-keras. "Dinegeri
ini Tulip lebih unggul dari gadis-gadisnya," balasku.
Anne mengibaskan tangannya berkali-kali.
Dan seraya menatapku dalam-dalam, ia berujar, "Kau tahu, Jo? Aku melihat
pantai Yogya di matamu, berombak agresif dan penuh mistik." Dan ketika ia
memainkan dua putaran balet klasik, tak bisa aku menahan tawa. Mataku mengerjap
berkali-kali.
"Kau tahu apa yang ada dalam
pikiranku, Anne?" Aku menyentuh bahunya.
"Kau membayangkan krakatau meletus
dan Batavia babak belur." Aku menggeleng.
"Ku pikir kau lebih bagus mendalami
seni balet klasik dan cabut dari astra Timur," cetusku. Ia mengupas senyum
dikulum. "Jo, kau tahu kemana aku disiapkan dulu?" "Biarawati.
Kau sudah berapa kali mengatakan itu. Dan ku bilang kau tak akan pernah jadi
biarawati.
"Karena aku bandel.
"Karena akan banyak laki-laki yang
akan mengejarmu ke biara."
"Tuhan bisa mengunci ku di biara,
Jo."
"Rumah it tidak diciptakan untuk
menakhlukkan penghuninya."
"Meski untuk kekasihnya
sendiri?"
"Ia tidak akan merebutmu jika membuat
luka bagi laki-laki lain."
Anne memandangku lekat-lekat. "Jo,
nyanikan untukku sebuah lagu. Maukah kau, Jo manis? Aku bilang, kau anak
kampung yang baik. Oh, kalau saja....."
"Kalau saja apa Anne?"
"Ah lupakan itu, Jo." Tapi
kemudian ia menyambungnya lagi dengan terbata-bata. "Kalau saja matahari
tiba-tiba melintas di atas Leiden dan mencairkan salju dengan cowok-cowoknya.
Atau kalau saja Mama Margareth tiba-tiba muncul di pintu dan menyanyikan lagu Selamat Malam, Baby."
Anne kemudian bernyanyi keras-keras. Aku
menutup gorden dan mengenang Sarinah.
Leiden berbalut malam. Tanpa bulan. Hanya
satu bintang kecil tepat di atas kota. Sedikit buram, memberi rasa sunyi.
"Jo."
"Hmm."
"Bisakah kau membayangkan kita
berbaring di bintang, lalu orang-orang di bumi memandangi kita?"
Aku menatap Anne selintas, lalu beralih
pada malam di luar jendela.
"Ku kira Profesor Lingk yang pertama
kaget," ujarku. "Kau tahu, ia selalu menyepelekanku dalam Filsafat
Seni. Ia tak pernah memandangku tanpa perendahan laki-laki Asia."
"Seorang laki-laki Asia dan gadis
Amsterdam berbaring di bintang kota Leiden. Bumi akan tampak seperti bola golf.
Jo, kau bisa melompat dari sana dan jatuh di tanah Jawa. Mungkin jga tepat di
pematang sawahmu. Bisakah kau bayangkan, Jo?"
"Maaf Anne. Aku tak pernah sejauh
itu," Jawabku. Dan kuingat kampung kecilku di Yogya, pada bangku bambu di
bawah pohon jambu setiap aku melewatkan malam terang bulan bersama Sarinah.
"Jo," panggilnya, sambil terus
saja menuangkan liqueur ke dalam gelasnya. Buihnya melimpah sampai ke lantai.
"Kau tahu apa kata Vollen tentang kau?"
"Entahlah, Anne. Mungkin ia bilang
aku seorang yang lemah untuk Sejarah KebudayaanYunani."
"Katanya kau tipe pencinta yang luar
biasa."
"Aku bukan pelukis Anne. Kau tahu
maksud ku bukan?"
"Kau kira hanya seniman yang bisa menjadi
penakhluk-penakhluk besar?
Basten, bekas pacarku itu, kau sudah
sering mendengar ini, kan? Dia budak angka-angka, tapi dia menakhlukan banyak
gadis sebelum merebutku dulu." Dan setelah merapatkan gorden, ia kemudian
melanjutkan. "Vollen juga pernah bilang kau terlalu lembut untuk ukuran
gadis Eropa."
"Kami diciptakan
untuk mendampingi gadis-gadis khas Asia," ungkapku sedikit kaku.
"Lamban, patuh, setia. Ouuhh.. Jo,
tak bisa kubayangkan jika saja Basten bercinta dengan mereka. Kau tahu mengapa
kami berpisah, kan? Katanya aku tidak dinamis." Anne mereguk gelasnya,
bibirnya basah. "Dinamis. Lucu ya, Jo! Bisakah kita mengubah seseorang?
Tidak mungin! Dan kukatakan padanya. Bast, aku mungkin tidak diciptakan untuk
cowok seperti kamu. Dan sudah kuduga, dia seorang yang mudah mengerti untuk
menutup sebuah cinta."
"Aku tidak tahu mengapa kau sampai
tertarik padanya," cetusku. Rokok kupasang. Kretek tentu saja. Aku tak
suka rokok putih. Tidak membantu hangat.
"Jo, bukan perempuan kalau tidak
tertarik pada dia. Dia punya segalanya untuk merebut hati gadis-gadis. Dansa,
humor, dan cuek."
"Dan bukan Basten kalau bukan
penyerbu," aku menambahkan.
Anne mangangguk. Lalu kudengar ia
bernyanyi-nyanyi kecil mirip gumaman. aku tak tahu dimana ia mendengar lagu
itu. Mungkin lagu rakyat di kota asalnya, Amsterdam.
"Jo, kau kedinginan? Kau mau
kubuatkan liqueur? tiba-tiba ia menyentuh lenganku.
"Tidak usah, Anne. Kalau kau mau,
kukira aku lebih suka kamu membuatkanku kopi untukku."
Ia tersenyum dan beranjak ke dapur.
Dipintu ia masih sempat berujar, "Kau anak yang manis Jo."
Tapi pikiranku? Ah, Yogya sering merebut
lamunanku hari-hari terakhir ini. Juga Sarinah. Tiba-tiba aku ingin menggoda
gadis bermata teduh itu. Kukira ia bukan lagi gadis malu-malu yang biasa
kutemui di simpang dekat jembatan bambu.
Anne kemudian muncul membawa segelas kopi.
Aku bilang terima kasih untuk perhatiannya.
"Jo," panggilnya lagi.
"Bagaimana pendapatmu jika Jeanne tiba-tiba menyatakan cinta padamu?"
"Ohh maaf, Anne. Ku kira aku tak
pernah memperhatikan sejauh itu."
"Dia gadis Perancis yang baik, Jo.
Sedikit konsevatif dan melankolik. Rasanya dia cocok untuk laki-laki Asia
sepertimu."
"Berikan saja pada Mambo.
Kupikir dia akan lebih cocok dengan laki-laki Afrika itu."
"Ah, Jo, bukan sifatku mencomblangi
orang," elaknya. Tapi kemudian dia menyambungnya lagi dengan antusias
setelah mereguk gelasnya. "Dia gadis Selatan yang manis, pemalu, tak bisa
dansa, tapi punya keinginan besar untuk mengabdikan dirina pada
laki-laki." Ia pun kemudian tertawa keras-keras.
"Rokok kutarik. Sarinah masih juga
menyelinap. Gadis itu kutemukan menari-nari disetiap asap yang kuhembuskan.
Juga wajah Ibuku. matanya dalam. Dan seperti kata Anne, kutemukan pengabdian
yang besar dalam diri mereka, sebuah cinta yang tak habis-habis.
"Jo."
Aku menatapnya sedikit terkejut.
"Bagaiman pendapatmu tentang
aku?"
"Kau anak yang baik, Anne,"
kataku buru-buru.
"Basten pernah bilang, hidungku
kekecilan. Sejak saat itu aku sering memikirkan hidungku. Betul begitu,
Jo?"
"Aku bilang kau anak yang baik,
Anne."
"Jo!" Ia menatapku tajam.
"Oh, maaf Anne. Kukira aku
sedikit tegang. Kau tahu, salju membuatku cemas.
"Betul hidungku kekecilan?"
"Kau gadis Eropa yang menarik, Anne.
Hidung gadis-gadis Asia juga kecil. Tapi mereka bisa memikat hati laki-laki.
Anne tertawa. Rambutnya mengerbas
berkali-ki. Lantas muncul saja pikiran buruk dalam benakku. Bagaimana jika
tiba-tiba ia menemukan kupingnya yang penuh salju?
"Jo, kau tahu aku merencanakan apa
untuk kita?"
"Ouhh, apa Anne?"
"Tebak lah, Jo manis!"
"Anne, kau tahu aku tidak bisa
berfikir dalam cuaca begini?"
Ia memegang tanganku. Matanya
berbinar-binar.
"Jo, aku merencanakan kta berlibur ke
Austria di hari ulang tahunmu nanti. Kejutan, kan? Aku janji akan memberi
saat-saat yang palung romantis dalam hidupmu. Edelweis, opera, konser. Hmm,
bisakah kau membayangkannya, Jo?"
Anne melemparkan sepatu dan mantelnya ke
sudut kamar, lalu kembali memainkan putaran-putaran balet klasik. Tapi Sarinah
merebutkulagi. Aku menemukannya menari-nari di langit-langit kamar.
Pandangannya buram, menyimpan kasih yang dalam.
Kamis, 07 Februari 2013
Surat Kepercayaan Gelanggang
Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.
Keindonesiaan kami tidak semata-semata karena kulit kami sawo matang, rambut kami yang hitam, atau pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kami tidak akan memberikan suatu kata ikatan untuk kebudayaan lama sampai berkilat untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu enghidupan kebudayaan baru yang sehat. kebudayaan indonesia ditetapkan kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara-suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha-usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.
Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikianlah kami berpendapat bahwa revolusi di tanah air sendiri belum selesai.
Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli, yang pokok bagi kami temui ialah manusia. Dalam cara mencari, membahas, dan menelaah kami membawa sifat sendiri.
Penghargaan kami terhadap keadaan sekeliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.
(Dikutip asli dari Ajip Rosidi, 1991 :85)