Pages

Sabtu, 09 Februari 2013

B A R A


            Malam kian larut dengan lantunan gerimis. New Bridge road yang biasanya ramai dengan orang yang bersiur kini langgeng. Hanya satu dua orang yang telihat melintas menembusi tetesan gerimis. Sekilas angin menerpa pelan, dingin pun menyergap tiap celah pori-pori. Aku anganku yang pupus barangkalitak ubahnya seperti asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungku, mengumpul perlahan hilang dari pandangan, berbaur dengan resahku. Aku mendesah resah. Akan datangkah ia menepati janjiyang diucapkannya kemarin malam? Disini, di tempat yang sama. Gelisahku semakin terasa, saat sepasang kekasih lewat didepanku, berangkulan dan hanya sepayung. Kembali kuhisap rokokku. Kembali seperti tadi lagi, asap menggumpal lalu sirna perlahan. Kupandangi ujung jalan tempat dia biasa muncul. Tak ada siapa-siapa. Membuatku semakin gelisah. Ternyata benar apa yang dikatakan orang, menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Perlahan lamunanku melayu. Merembesi kisi-kisi waktu, berlabuh disebuah titik masa dimana, masa pertama aku mengenalnya.
            Kukenal nama gadis Cina itu dengan nama Ina. Gadis yang menurutku unik ditengah hinarnya Singapore. Pertemuanku dengan Ina tak seromantis yang digelarkan dilayar-layar perak. Pertemuanku itu, di Merlion Park, diantara orang yang sibuk memadu kasih, mataku terbentur pada sebuah lukisan alam. Seorang gadis manis, duduk sendirian disebuahn kursi taman, menikmati senja dan patung ikan berkepala singa didepannya, ditangannya yang mungil tergenggam erat seperangkat bunga melati. Aku dengan membawa sedikit harapan duduk disisinya. Memandang apa yang ia pandang, belajar menikmati apa yang ia nikmati. Gadis itu menoleh kearahku, sekejap dan tanpa senyum. Kami saling diam hanyut dihalusinasi masing-masing. Kehening itu berakhir ketika ia berbicara dengan suara yang merdu dan kefasihan bahasa inggrisnya yang enak didengar.
            “Apa yang kamu rasakan jiwamu saat kamu melihat laut merah seperti senja ini?”, tanyanya.
            Semula aku ragu, apa pertanyaan itu ditujukan untukku atau bukan. Tetapi setelah kusadari bahwa disampingnya hanya ada aku, setelah ia menatapku dengan tatapan persahabatan, membenarkan bahwa pertanyaan itu untukku, baru aku menjawabnya.
            “Melihatnya seperti melibatkan diri pada sebuah alur yang misterius. Menenggelamkan kita dalam angan dan aneka rasa. Ada gundah resah dan gairah. Merahnya seperti jelmaan dari mimpi-mimpiku yang terbakar dan apa yang kamu rasakan, nona?”
            Dia menggerakkan poninya lalu memandangku dengan suka. Kali ini aku bisa menikmati kecantikan yang sempurna. Senja semakin jatuh.
            “Aku suka disini, hana untuk menikmati beralihnya sore ke senja. Pada masa transisi itu aku temukan kebahagiaan tersendiri. Sepertinya aku temukan diriku pribadi. Justru aku sering menjadi sosok yang lain. Padahal seorang penyair Tunisia pernah berkata, ikuti kata impianmu maka akan kau temui kebahagiaan yang engkau dambakan. Aku coba yang ia katakan. Kuikuti kata impianku, berjam-jam aku duduk disini, sejenak, ternyata kutemukan yang kau cari.”
            Aku terpaku. Aku temukan lagi fenomena yang berharga, ternyata diderasnya modernisasi, kemanusiaan dan ajaran-ajarannya tiada bisa terabaikan. Gadis disisiku, yang kemudian diketahui bernama Herluna Clow menimbulkan getar yang lain dijiwaku. Tentang pandangannya.
            “Didalam kehidupan ini, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Memilih yang ini atau yang itu. Sedangkan bila kita enggan berarti kita telah memilih pilihan yang lain. Memang tidak menyenangkan. Sepertinya kita harus pasrah pada alur takdir. Tapi itulah realita sesungguhnya. Hari akupun telah memilih sesuatu,  al”, kata Ina.
            “Apa pilihanmu itu?”
            “Belajar menyukaimu dan mengakrabimu.”
            “Kenapa mesti aku?”
            “Entahlah, aku hanya ikuti kata impianku. Kata hatiku.”
            “Sebagai relaksasikah In?”
            “Mungkin tidak, toh hidup mesti dinikmati seadanya.”
            Semenjak pertemuan sore itu kami sering mengadakan pertemuan-pertemuan yang lain. Kesamaan pandangan membuat kami serasi, saling memerlukan dan jatuh cinta. Persahabatan pun berubah makna. Saksi satu-satunya, pendeta atas segalanya, hanya masa. Inapun semakin akrab dihariku. Ternyata selain cantik, Ina anak seorang pengusaha kaya plus seorang mahasiswi fakultas sastra Jerman di Nanyang Techological Institue. Sedang aku? Pernah ku paparkan perbedaan itu padanya.
            “Aku tidak kaya In.”
            “Aku tidak perlu harta Al.”
            “Aku lain bangsa dengan mu, lain agama, lain idealis, lai...”
            “Toh kamukan manusia juga, sepertiku. Bukankah manusia dimana-mana sama?”
            “Tapi, sungguh aku risih.”
            “Cinta agung Al. Cinta menghapus segala perbedaan. Percayalah aku sayang kamu.”
            Lamunanku buyar ketika sebuah mobil berhenti dijalan tak jauh dari tempatku duduk. Seseorang keluar dari mobil Corolla putih itu, ternyata Ina. Ina menghampiriku lalu duduk di sisiku, kepala disandarkannya dibahuku.
            “Sudah lama?”
            “Lumayan, kenapa tidak seperti biasanya bawa-bawa mobil, mau ke kondangan ya?”
            “Tadi aku ikut papi ke Newton, pulangnya langsung kesini. Ngobrol ke Merlion yuk.”
            Aku tak biacara apa-apa. Aku hanya menatap malam yang tak lagi gerimis. Yang aku lakukan hanya bangkit, mencium kening Ina, merangkulnya, menuju mobil.
            “Menikmati malam tak ubahnya seperti melakukan pekerjaan batin. Pada heningnya sebuah suasana kita melibatkan perasaan. Gairah yang mendidih juga sesal yang berkepanjangan. Bicara tidak lagi perlu kata-kata. Kita cukup hanya memandang bintang gemintang, bercerita pada embun, lalubertanya pada kelam yang kian akrab, esok bawa cerita apa?, tentang anggrek dan camar, ataukah luk?, Ona berceloteh seperti bergumam.
            Aku kecup jemari tangannya. Tengah malam telah berlalu. Satu persatu embun mulai menghiasi dedaunan di taman. Hening, Merlion Park pun hening.
            “Tahukah kamu apa yang dibisikkan ombak kala lidahnya menjilati pantai?”, tanyaku.       “cerita tentang hidup yang menjenuhkan.”
            “Juga tentang kita In.”
            “Kita?”
            “Ya kita, kamu dan aku akankah bisa bertahan? Disishkan masa melangkah diarah yang tak pasti.”
            Ina mempererat rangkulan tangannya ditanganku.
            “Kita mempunyai banyak impian Al”
            “tercapaikah seberang impian itu bila sayap berkepak tak senada?”
            “Jangan lagi bicara. Dihening ini selayaknya kita diam. Mendengarkan bisikan dedaunan, mendengarkan nyanyian malam, agar kita temukan esok yang lebih baik. Bukankah hidup pada hakekatnya bicara atau pundiam tetap mengikuti garis merah takdir. Berusaha atau bermimpi tetap terkapar, memandang dan menjalani takdir pribadi.”
            Aku diam menatap air yang tak begitu beriak diatasnya sebuah perahu pesia berlayar pelan. Barangkali ingin menikmati sudut-sudut Singapura di kala malam.
            “Aku tak ingin berpisah lagi dengan mu Al”
            “Berarti kamu tolak kesempatan itu.”
            Resah menyergapku. Aku gelisah. Adakah cinta seperti yang sering kudengar, sebuah persembahan untuk yang terkasih.
            “Ina, terus terang aku pun sayang kamu. Cinta yang kita miliki membuai kita kealam dewa-dewa. Serba menyenangkan. Tapi hidup tak punya makna tanpa unsur lain. Hidup tak cuma perlu cinta. Ada yang lebih penting dan bermakna.”
            “Maksudmu?”
            “Janganlah hendaknya keterlibatanku dihidupmu memberatkan kamu dalam memilih apa yang terbaik dalam hidup pribadimu. Kamu terpilih untuk memperdalam ilmu di Berlin Barat, itu sebuah kesempatan. Tahukah kamu bahwa kesempatan datangnya hanya sekali. Saranku In, genggam dan jalanilah. Disanapun kamu bisa menikmati malam. Bukankah malam katamu dimanapun sama?”
            “Kamu tak suka aku disini Al?”
            “Bila boleh memilih aku memilih untuk selalu disisimu.”
            “Lalu?”
            “Akhirnya kita berpulang kemerah garis takdir kita. Percayalah bila ada jodoh takkan lari kemana.”
            Waktu terus berpacu. Malampun kian terusir. Aku membelai rambut Ina sedih dijiwa.
            “Cinta seperti bara.” Bisikku.
            “Ya. Menggenggamnya erat berarti membiarkan diri sendiri terluka.”
            Akhirnya gadis manis itu pergi juga. Aku mengantarkannya hingga Chagi Airport. Di ruang tunggu lama kami saling diam. Mata orang terkasih itu berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Sedihpun bergayut di kalbuku.
            “Apa yang ingin kamu katakan, katakanlah Al. Selagi masa belum memisahkan kita semakn jauh.”
Aku tersenyum kecut.
            “Aku ingin memakimu.”
            “Atas dasar apa?”
            “Atas cinta yang terbengkalai, atas hati yang tergores resah atas malam yang nantinya bakal ku lewati sendiri.” Ina tersenyum tetapi dimatanya yang indah itu ada tetes air mata.
            “Hanya itu Al?”
            “Jaga dirimu baik-baik. Kenanglah aku. Kita pernah lewati malam panjang bersama. Bukankah impianmu yang terakhir adalah menikmati malam bersamaku, suatu ketika nanti, di negeriku tercinta?”
            Ina tersedu didadaku. Lama. Akhirnya rengkulan berakhir juga. Ina meninggalkanku tanpa kata perpisahan. Aku termangu, hampa, sepertinya ingin menangis. Aku jadi ingat, setahun yang lalu di kotaku, seorang gadis manis pernah mengantar kepergianku dengan tersedu.
            Ketika pesawat yang ditumpangi Ina mengudara, aku berjalan resah. Mengikuti ajakan kakiku dengan seribu tanya dikepala. Tentang hidup, takdir dan kesetiaan. Apakah hanya seperti yang kubisikkan pada Ina... Bara?


Elva Edison

            

0 komentar:

Posting Komentar