Malam kian larut dengan lantunan gerimis. New Bridge road
yang biasanya ramai dengan orang yang bersiur kini langgeng. Hanya satu dua
orang yang telihat melintas menembusi tetesan gerimis. Sekilas angin menerpa
pelan, dingin pun menyergap tiap celah pori-pori. Aku anganku yang pupus
barangkalitak ubahnya seperti asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungku,
mengumpul perlahan hilang dari pandangan, berbaur dengan resahku. Aku mendesah
resah. Akan datangkah ia menepati janjiyang diucapkannya kemarin malam? Disini,
di tempat yang sama. Gelisahku semakin terasa, saat sepasang kekasih lewat
didepanku, berangkulan dan hanya sepayung. Kembali kuhisap rokokku. Kembali
seperti tadi lagi, asap menggumpal lalu sirna perlahan. Kupandangi ujung jalan
tempat dia biasa muncul. Tak ada siapa-siapa. Membuatku semakin gelisah.
Ternyata benar apa yang dikatakan orang, menunggu adalah pekerjaan yang sangat
membosankan. Perlahan lamunanku melayu. Merembesi kisi-kisi waktu, berlabuh
disebuah titik masa dimana, masa pertama aku mengenalnya.
Kukenal nama gadis Cina itu dengan nama Ina. Gadis yang
menurutku unik ditengah hinarnya Singapore. Pertemuanku dengan Ina tak
seromantis yang digelarkan dilayar-layar perak. Pertemuanku itu, di Merlion
Park, diantara orang yang sibuk memadu kasih, mataku terbentur pada sebuah
lukisan alam. Seorang gadis manis, duduk sendirian disebuahn kursi taman,
menikmati senja dan patung ikan berkepala singa didepannya, ditangannya yang
mungil tergenggam erat seperangkat bunga melati. Aku dengan membawa sedikit
harapan duduk disisinya. Memandang apa yang ia pandang, belajar menikmati apa
yang ia nikmati. Gadis itu menoleh kearahku, sekejap dan tanpa senyum. Kami
saling diam hanyut dihalusinasi masing-masing. Kehening itu berakhir ketika ia
berbicara dengan suara yang merdu dan kefasihan bahasa inggrisnya yang enak
didengar.
“Apa yang kamu rasakan jiwamu saat kamu melihat laut
merah seperti senja ini?”, tanyanya.
Semula aku ragu, apa pertanyaan itu ditujukan untukku
atau bukan. Tetapi setelah kusadari bahwa disampingnya hanya ada aku, setelah
ia menatapku dengan tatapan persahabatan, membenarkan bahwa pertanyaan itu
untukku, baru aku menjawabnya.
“Melihatnya seperti melibatkan diri pada sebuah alur yang
misterius. Menenggelamkan kita dalam angan dan aneka rasa. Ada gundah resah dan
gairah. Merahnya seperti jelmaan dari mimpi-mimpiku yang terbakar dan apa yang
kamu rasakan, nona?”
Dia menggerakkan poninya lalu memandangku dengan suka.
Kali ini aku bisa menikmati kecantikan yang sempurna. Senja semakin jatuh.
“Aku suka disini, hana untuk menikmati beralihnya sore ke
senja. Pada masa transisi itu aku temukan kebahagiaan tersendiri. Sepertinya
aku temukan diriku pribadi. Justru aku sering menjadi sosok yang lain. Padahal
seorang penyair Tunisia pernah berkata, ikuti kata impianmu maka akan kau temui
kebahagiaan yang engkau dambakan. Aku coba yang ia katakan. Kuikuti kata
impianku, berjam-jam aku duduk disini, sejenak, ternyata kutemukan yang kau
cari.”
Aku terpaku. Aku temukan lagi fenomena yang berharga,
ternyata diderasnya modernisasi, kemanusiaan dan ajaran-ajarannya tiada bisa
terabaikan. Gadis disisiku, yang kemudian diketahui bernama Herluna Clow
menimbulkan getar yang lain dijiwaku. Tentang pandangannya.
“Didalam kehidupan ini, kita akan selalu dihadapkan pada
pilihan-pilihan. Memilih yang ini atau yang itu. Sedangkan bila kita enggan
berarti kita telah memilih pilihan yang lain. Memang tidak menyenangkan.
Sepertinya kita harus pasrah pada alur takdir. Tapi itulah realita
sesungguhnya. Hari akupun telah memilih sesuatu, al”, kata Ina.
“Apa pilihanmu itu?”
“Belajar menyukaimu dan
mengakrabimu.”
“Kenapa mesti aku?”
“Entahlah, aku hanya ikuti kata
impianku. Kata hatiku.”
“Sebagai relaksasikah In?”
“Mungkin tidak, toh hidup mesti dinikmati seadanya.”
Semenjak pertemuan sore itu kami sering mengadakan
pertemuan-pertemuan yang lain. Kesamaan pandangan membuat kami serasi, saling
memerlukan dan jatuh cinta. Persahabatan pun berubah makna. Saksi satu-satunya,
pendeta atas segalanya, hanya masa. Inapun semakin akrab dihariku. Ternyata
selain cantik, Ina anak seorang pengusaha kaya plus seorang mahasiswi fakultas
sastra Jerman di Nanyang Techological Institue. Sedang aku? Pernah ku paparkan
perbedaan itu padanya.
“Aku tidak kaya In.”
“Aku tidak perlu harta Al.”
“Aku lain bangsa dengan mu, lain
agama, lain idealis, lai...”
“Toh kamukan manusia juga,
sepertiku. Bukankah manusia dimana-mana sama?”
“Tapi, sungguh aku risih.”
“Cinta agung Al. Cinta menghapus segala perbedaan.
Percayalah aku sayang kamu.”
Lamunanku buyar ketika sebuah mobil berhenti dijalan tak
jauh dari tempatku duduk. Seseorang keluar dari mobil Corolla putih itu,
ternyata Ina. Ina menghampiriku lalu duduk di sisiku, kepala disandarkannya
dibahuku.
“Sudah lama?”
“Lumayan, kenapa tidak seperti
biasanya bawa-bawa mobil, mau ke kondangan ya?”
“Tadi aku ikut papi ke Newton, pulangnya langsung kesini.
Ngobrol ke Merlion yuk.”
Aku tak biacara apa-apa. Aku hanya menatap malam yang tak
lagi gerimis. Yang aku lakukan hanya bangkit, mencium kening Ina, merangkulnya,
menuju mobil.
“Menikmati malam tak ubahnya seperti melakukan pekerjaan
batin. Pada heningnya sebuah suasana kita melibatkan perasaan. Gairah yang
mendidih juga sesal yang berkepanjangan. Bicara tidak lagi perlu kata-kata.
Kita cukup hanya memandang bintang gemintang, bercerita pada embun,
lalubertanya pada kelam yang kian akrab, esok bawa cerita apa?, tentang anggrek
dan camar, ataukah luk?, Ona berceloteh seperti bergumam.
Aku kecup jemari tangannya. Tengah malam telah berlalu.
Satu persatu embun mulai menghiasi dedaunan di taman. Hening, Merlion Park pun
hening.
“Tahukah kamu apa yang dibisikkan
ombak kala lidahnya menjilati pantai?”, tanyaku. “cerita tentang hidup yang menjenuhkan.”
“Juga tentang kita In.”
“Kita?”
“Ya kita, kamu dan aku akankah bisa bertahan? Disishkan
masa melangkah diarah yang tak pasti.”
Ina mempererat rangkulan tangannya ditanganku.
“Kita mempunyai banyak impian Al”
“tercapaikah seberang impian itu
bila sayap berkepak tak senada?”
“Jangan lagi bicara. Dihening ini selayaknya kita diam.
Mendengarkan bisikan dedaunan, mendengarkan nyanyian malam, agar kita temukan
esok yang lebih baik. Bukankah hidup pada hakekatnya bicara atau pundiam tetap
mengikuti garis merah takdir. Berusaha atau bermimpi tetap terkapar, memandang
dan menjalani takdir pribadi.”
Aku diam menatap air yang tak begitu beriak diatasnya
sebuah perahu pesia berlayar pelan. Barangkali ingin menikmati sudut-sudut
Singapura di kala malam.
“Aku tak ingin berpisah lagi dengan
mu Al”
“Berarti kamu tolak kesempatan itu.”
Resah menyergapku. Aku gelisah. Adakah cinta seperti yang
sering kudengar, sebuah persembahan untuk yang terkasih.
“Ina, terus terang aku pun sayang
kamu. Cinta yang kita miliki membuai kita kealam dewa-dewa. Serba menyenangkan.
Tapi hidup tak punya makna tanpa unsur lain. Hidup tak cuma perlu cinta. Ada yang
lebih penting dan bermakna.”
“Maksudmu?”
“Janganlah hendaknya keterlibatanku
dihidupmu memberatkan kamu dalam memilih apa yang terbaik dalam hidup
pribadimu. Kamu terpilih untuk memperdalam ilmu di Berlin Barat, itu sebuah
kesempatan. Tahukah kamu bahwa kesempatan datangnya hanya sekali. Saranku In,
genggam dan jalanilah. Disanapun kamu bisa menikmati malam. Bukankah malam
katamu dimanapun sama?”
“Kamu tak suka aku disini Al?”
“Bila boleh memilih aku memilih
untuk selalu disisimu.”
“Lalu?”
“Akhirnya kita berpulang kemerah garis takdir kita. Percayalah
bila ada jodoh takkan lari kemana.”
Waktu terus berpacu. Malampun kian terusir. Aku membelai
rambut Ina sedih dijiwa.
“Cinta seperti bara.” Bisikku.
“Ya. Menggenggamnya erat berarti membiarkan diri sendiri
terluka.”
Akhirnya gadis manis itu pergi juga. Aku mengantarkannya
hingga Chagi Airport. Di ruang tunggu lama kami saling diam. Mata orang
terkasih itu berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Sedihpun bergayut di kalbuku.
“Apa yang ingin kamu katakan,
katakanlah Al. Selagi masa belum memisahkan kita semakn jauh.”
Aku
tersenyum kecut.
“Aku ingin memakimu.”
“Atas dasar apa?”
“Atas cinta yang terbengkalai, atas
hati yang tergores resah atas malam yang nantinya bakal ku lewati sendiri.” Ina
tersenyum tetapi dimatanya yang indah itu ada tetes air mata.
“Hanya itu Al?”
“Jaga dirimu baik-baik. Kenanglah aku. Kita pernah lewati
malam panjang bersama. Bukankah impianmu yang terakhir adalah menikmati malam
bersamaku, suatu ketika nanti, di negeriku tercinta?”
Ina tersedu didadaku. Lama. Akhirnya rengkulan berakhir
juga. Ina meninggalkanku tanpa kata perpisahan. Aku termangu, hampa, sepertinya
ingin menangis. Aku jadi ingat, setahun yang lalu di kotaku, seorang gadis
manis pernah mengantar kepergianku dengan tersedu.
Ketika pesawat yang ditumpangi Ina mengudara, aku
berjalan resah. Mengikuti ajakan kakiku dengan seribu tanya dikepala. Tentang hidup,
takdir dan kesetiaan. Apakah hanya seperti yang kubisikkan pada Ina... Bara?
Elva Edison
0 komentar:
Posting Komentar