Pages

Sabtu, 09 Februari 2013

B A R A


            Malam kian larut dengan lantunan gerimis. New Bridge road yang biasanya ramai dengan orang yang bersiur kini langgeng. Hanya satu dua orang yang telihat melintas menembusi tetesan gerimis. Sekilas angin menerpa pelan, dingin pun menyergap tiap celah pori-pori. Aku anganku yang pupus barangkalitak ubahnya seperti asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungku, mengumpul perlahan hilang dari pandangan, berbaur dengan resahku. Aku mendesah resah. Akan datangkah ia menepati janjiyang diucapkannya kemarin malam? Disini, di tempat yang sama. Gelisahku semakin terasa, saat sepasang kekasih lewat didepanku, berangkulan dan hanya sepayung. Kembali kuhisap rokokku. Kembali seperti tadi lagi, asap menggumpal lalu sirna perlahan. Kupandangi ujung jalan tempat dia biasa muncul. Tak ada siapa-siapa. Membuatku semakin gelisah. Ternyata benar apa yang dikatakan orang, menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Perlahan lamunanku melayu. Merembesi kisi-kisi waktu, berlabuh disebuah titik masa dimana, masa pertama aku mengenalnya.
            Kukenal nama gadis Cina itu dengan nama Ina. Gadis yang menurutku unik ditengah hinarnya Singapore. Pertemuanku dengan Ina tak seromantis yang digelarkan dilayar-layar perak. Pertemuanku itu, di Merlion Park, diantara orang yang sibuk memadu kasih, mataku terbentur pada sebuah lukisan alam. Seorang gadis manis, duduk sendirian disebuahn kursi taman, menikmati senja dan patung ikan berkepala singa didepannya, ditangannya yang mungil tergenggam erat seperangkat bunga melati. Aku dengan membawa sedikit harapan duduk disisinya. Memandang apa yang ia pandang, belajar menikmati apa yang ia nikmati. Gadis itu menoleh kearahku, sekejap dan tanpa senyum. Kami saling diam hanyut dihalusinasi masing-masing. Kehening itu berakhir ketika ia berbicara dengan suara yang merdu dan kefasihan bahasa inggrisnya yang enak didengar.
            “Apa yang kamu rasakan jiwamu saat kamu melihat laut merah seperti senja ini?”, tanyanya.
            Semula aku ragu, apa pertanyaan itu ditujukan untukku atau bukan. Tetapi setelah kusadari bahwa disampingnya hanya ada aku, setelah ia menatapku dengan tatapan persahabatan, membenarkan bahwa pertanyaan itu untukku, baru aku menjawabnya.
            “Melihatnya seperti melibatkan diri pada sebuah alur yang misterius. Menenggelamkan kita dalam angan dan aneka rasa. Ada gundah resah dan gairah. Merahnya seperti jelmaan dari mimpi-mimpiku yang terbakar dan apa yang kamu rasakan, nona?”
            Dia menggerakkan poninya lalu memandangku dengan suka. Kali ini aku bisa menikmati kecantikan yang sempurna. Senja semakin jatuh.
            “Aku suka disini, hana untuk menikmati beralihnya sore ke senja. Pada masa transisi itu aku temukan kebahagiaan tersendiri. Sepertinya aku temukan diriku pribadi. Justru aku sering menjadi sosok yang lain. Padahal seorang penyair Tunisia pernah berkata, ikuti kata impianmu maka akan kau temui kebahagiaan yang engkau dambakan. Aku coba yang ia katakan. Kuikuti kata impianku, berjam-jam aku duduk disini, sejenak, ternyata kutemukan yang kau cari.”
            Aku terpaku. Aku temukan lagi fenomena yang berharga, ternyata diderasnya modernisasi, kemanusiaan dan ajaran-ajarannya tiada bisa terabaikan. Gadis disisiku, yang kemudian diketahui bernama Herluna Clow menimbulkan getar yang lain dijiwaku. Tentang pandangannya.
            “Didalam kehidupan ini, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Memilih yang ini atau yang itu. Sedangkan bila kita enggan berarti kita telah memilih pilihan yang lain. Memang tidak menyenangkan. Sepertinya kita harus pasrah pada alur takdir. Tapi itulah realita sesungguhnya. Hari akupun telah memilih sesuatu,  al”, kata Ina.
            “Apa pilihanmu itu?”
            “Belajar menyukaimu dan mengakrabimu.”
            “Kenapa mesti aku?”
            “Entahlah, aku hanya ikuti kata impianku. Kata hatiku.”
            “Sebagai relaksasikah In?”
            “Mungkin tidak, toh hidup mesti dinikmati seadanya.”
            Semenjak pertemuan sore itu kami sering mengadakan pertemuan-pertemuan yang lain. Kesamaan pandangan membuat kami serasi, saling memerlukan dan jatuh cinta. Persahabatan pun berubah makna. Saksi satu-satunya, pendeta atas segalanya, hanya masa. Inapun semakin akrab dihariku. Ternyata selain cantik, Ina anak seorang pengusaha kaya plus seorang mahasiswi fakultas sastra Jerman di Nanyang Techological Institue. Sedang aku? Pernah ku paparkan perbedaan itu padanya.
            “Aku tidak kaya In.”
            “Aku tidak perlu harta Al.”
            “Aku lain bangsa dengan mu, lain agama, lain idealis, lai...”
            “Toh kamukan manusia juga, sepertiku. Bukankah manusia dimana-mana sama?”
            “Tapi, sungguh aku risih.”
            “Cinta agung Al. Cinta menghapus segala perbedaan. Percayalah aku sayang kamu.”
            Lamunanku buyar ketika sebuah mobil berhenti dijalan tak jauh dari tempatku duduk. Seseorang keluar dari mobil Corolla putih itu, ternyata Ina. Ina menghampiriku lalu duduk di sisiku, kepala disandarkannya dibahuku.
            “Sudah lama?”
            “Lumayan, kenapa tidak seperti biasanya bawa-bawa mobil, mau ke kondangan ya?”
            “Tadi aku ikut papi ke Newton, pulangnya langsung kesini. Ngobrol ke Merlion yuk.”
            Aku tak biacara apa-apa. Aku hanya menatap malam yang tak lagi gerimis. Yang aku lakukan hanya bangkit, mencium kening Ina, merangkulnya, menuju mobil.
            “Menikmati malam tak ubahnya seperti melakukan pekerjaan batin. Pada heningnya sebuah suasana kita melibatkan perasaan. Gairah yang mendidih juga sesal yang berkepanjangan. Bicara tidak lagi perlu kata-kata. Kita cukup hanya memandang bintang gemintang, bercerita pada embun, lalubertanya pada kelam yang kian akrab, esok bawa cerita apa?, tentang anggrek dan camar, ataukah luk?, Ona berceloteh seperti bergumam.
            Aku kecup jemari tangannya. Tengah malam telah berlalu. Satu persatu embun mulai menghiasi dedaunan di taman. Hening, Merlion Park pun hening.
            “Tahukah kamu apa yang dibisikkan ombak kala lidahnya menjilati pantai?”, tanyaku.       “cerita tentang hidup yang menjenuhkan.”
            “Juga tentang kita In.”
            “Kita?”
            “Ya kita, kamu dan aku akankah bisa bertahan? Disishkan masa melangkah diarah yang tak pasti.”
            Ina mempererat rangkulan tangannya ditanganku.
            “Kita mempunyai banyak impian Al”
            “tercapaikah seberang impian itu bila sayap berkepak tak senada?”
            “Jangan lagi bicara. Dihening ini selayaknya kita diam. Mendengarkan bisikan dedaunan, mendengarkan nyanyian malam, agar kita temukan esok yang lebih baik. Bukankah hidup pada hakekatnya bicara atau pundiam tetap mengikuti garis merah takdir. Berusaha atau bermimpi tetap terkapar, memandang dan menjalani takdir pribadi.”
            Aku diam menatap air yang tak begitu beriak diatasnya sebuah perahu pesia berlayar pelan. Barangkali ingin menikmati sudut-sudut Singapura di kala malam.
            “Aku tak ingin berpisah lagi dengan mu Al”
            “Berarti kamu tolak kesempatan itu.”
            Resah menyergapku. Aku gelisah. Adakah cinta seperti yang sering kudengar, sebuah persembahan untuk yang terkasih.
            “Ina, terus terang aku pun sayang kamu. Cinta yang kita miliki membuai kita kealam dewa-dewa. Serba menyenangkan. Tapi hidup tak punya makna tanpa unsur lain. Hidup tak cuma perlu cinta. Ada yang lebih penting dan bermakna.”
            “Maksudmu?”
            “Janganlah hendaknya keterlibatanku dihidupmu memberatkan kamu dalam memilih apa yang terbaik dalam hidup pribadimu. Kamu terpilih untuk memperdalam ilmu di Berlin Barat, itu sebuah kesempatan. Tahukah kamu bahwa kesempatan datangnya hanya sekali. Saranku In, genggam dan jalanilah. Disanapun kamu bisa menikmati malam. Bukankah malam katamu dimanapun sama?”
            “Kamu tak suka aku disini Al?”
            “Bila boleh memilih aku memilih untuk selalu disisimu.”
            “Lalu?”
            “Akhirnya kita berpulang kemerah garis takdir kita. Percayalah bila ada jodoh takkan lari kemana.”
            Waktu terus berpacu. Malampun kian terusir. Aku membelai rambut Ina sedih dijiwa.
            “Cinta seperti bara.” Bisikku.
            “Ya. Menggenggamnya erat berarti membiarkan diri sendiri terluka.”
            Akhirnya gadis manis itu pergi juga. Aku mengantarkannya hingga Chagi Airport. Di ruang tunggu lama kami saling diam. Mata orang terkasih itu berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Sedihpun bergayut di kalbuku.
            “Apa yang ingin kamu katakan, katakanlah Al. Selagi masa belum memisahkan kita semakn jauh.”
Aku tersenyum kecut.
            “Aku ingin memakimu.”
            “Atas dasar apa?”
            “Atas cinta yang terbengkalai, atas hati yang tergores resah atas malam yang nantinya bakal ku lewati sendiri.” Ina tersenyum tetapi dimatanya yang indah itu ada tetes air mata.
            “Hanya itu Al?”
            “Jaga dirimu baik-baik. Kenanglah aku. Kita pernah lewati malam panjang bersama. Bukankah impianmu yang terakhir adalah menikmati malam bersamaku, suatu ketika nanti, di negeriku tercinta?”
            Ina tersedu didadaku. Lama. Akhirnya rengkulan berakhir juga. Ina meninggalkanku tanpa kata perpisahan. Aku termangu, hampa, sepertinya ingin menangis. Aku jadi ingat, setahun yang lalu di kotaku, seorang gadis manis pernah mengantar kepergianku dengan tersedu.
            Ketika pesawat yang ditumpangi Ina mengudara, aku berjalan resah. Mengikuti ajakan kakiku dengan seribu tanya dikepala. Tentang hidup, takdir dan kesetiaan. Apakah hanya seperti yang kubisikkan pada Ina... Bara?


Elva Edison

            

Kasih yang Dalam


       Angin berhembus dari arah Eropa Selatan, melintasi pegunungan Alpen yang menjulang di perbatasan Italia dan Swiss. Udara membawa butir-butir salju, menebar di sepanjang negeri Belanda, di lapangan rumput, dan tulip, dan sebuah flat : Herenstraat 132.
Anne masih saja menuangkan Mansion ke dalam gelasnya. Entah sudah berapa kali ia menjejali mulutnya dengan anggur Jamaika itu, sejak salju pertama turun awal Desember lalu.
"Ayolah Jo, ini lebih enak dari kopi Sumatra-mu," katanya bangga. "Gurih dan memberi rasa hangat." 
"Juga memberi rasa mual," sambutku. Dia tertawa. Bibirnya melengkung di sudut. "Mau kutambahkan sedikit bir, Jo?". Aku menggeleng.
"Mungkin rempah atau sari buah? Kujamin mualmu bakal hilang !". Sekali lagi aku menolak. Anggur Jamaika selalu membuat perutku mual. Kopi dan bubuk teh lebih banyak merebut pagiku. Dan gadis ini selalu terbahak-bahak setiap kali aku menyeduhnya.
"Jo.
 "Ya."
 "Bisakah kau membayangkan aku kehabisan gin di musim salju ini?". "Kukira kau akan memeras Tulip dan memeras sarinya."
 "Dia tertawa, lantas menarik gorden. Leiden terpampang berlumur salju. Fakultas Sastra dan Filsafat terbungkus putih, seperti menyambut turunnya bidadari. Dan tiba-tiba aku hanya bisa tersenyum ketika ingat kata Sulasro dulu. Katanya bidadari Eropa lebih putih karena sering terkurung salju, tapi terlalu kaku untuk ukuran Asia.
 "Kau lihat salju itu, Jo?" Anne menunjuk ke luar jendela kaca. Salju menaburi jalanan sepanjang asrama mahasiswa yang tegak di tengah kota. Beberapa mahasiswa menyebrangi perempatan jalan Langeburg. Kebanyakan berpayung dan mantel, bahkan sepatu bot.
Salju memang tidak seganas biasanya di bulan Januari. Orang masih bisa merayakan natal dan Tahun Baru di taman-taman kota. Bahkan beberapa mahasiswa meyempatkan diri berlibur ke Paris dan Swiss. Mereka tidak harus terkurung di flatnya yang sumpek.
Anne memegang tanganku. Jemarina dingin. Dan kuingat lagi legenda bidadari Eropa itu.
 "Salju memberi rasa aman, tenang, seperti menjanjikan pertemuan yang mengesankan," cetus Anna puitis. "Kau suka, Jo? Ini saat yang paling tepat untuk memulai percintaan romantis."
"Kukira kabut pagi di Indonesia lebih indah lag dari pada saljumu," aku membandingkan.
Dia menatapku. Rambut pirangnya mengerebas sampai ke bahu. Aku meraih Angrek yang menguning di sisi jendela, lalu melemparnya ke jalanan.
 "Kau tahu, Jo? Tak ada yang menarik perhatianku melebihi salju. Putih, basah, seperti cinta yang dalam."
 "Kau belum melihat puncak Tidar, Anne. Gunung paling romantis di negeriku. Sebuah telaga, sungai jernih, dan Edelweis. Kau pasti bilang terlalu indah untuk pasangan yang bersahabat." Anne mengulum senyum.
"Kau tidak sedang mimpi Salzburg, kan?" tudingnya. Ia sering cerita tentang pesona Berry dan Edelweis Austria di musim salju.
"Kau kira hanya Austria yang kaya Edelweis?" sergahku. "Indonesia gudangnya  bunga-bunga cantik. Coba, bunga apa yang bisa membuatmu tertawa! Kaktus? Asoka? Kau bisa menemukan semuanya di sana. Mereka jauh lebih anggun dari gadis-gadis Amsterdam."
Anne menggeleng. senyum sempitnya mempertontonkan keyakinan diri yang luar biasa. "Aku tak yakin sebuah bunga akan berkembang baik dalam masyarakat yang begitu primitif," Ujarnya.
Aku tertawa keras-keras. "Dinegeri ini Tulip lebih unggul dari gadis-gadisnya," balasku.
Anne mengibaskan tangannya berkali-kali. Dan seraya menatapku dalam-dalam, ia berujar, "Kau tahu, Jo? Aku melihat pantai Yogya di matamu, berombak agresif dan penuh mistik." Dan ketika ia memainkan dua putaran balet klasik, tak bisa aku menahan tawa. Mataku mengerjap berkali-kali.
"Kau tahu apa yang ada dalam pikiranku, Anne?" Aku menyentuh bahunya.
"Kau membayangkan krakatau meletus dan Batavia babak belur." Aku menggeleng.
"Ku pikir kau lebih bagus mendalami seni balet klasik dan cabut dari astra Timur," cetusku. Ia mengupas senyum dikulum. "Jo, kau tahu kemana aku disiapkan dulu?" "Biarawati. Kau sudah berapa kali mengatakan itu. Dan ku bilang kau tak akan pernah jadi biarawati.
"Karena aku bandel.
"Karena akan banyak laki-laki yang akan mengejarmu ke biara."
"Tuhan bisa mengunci ku di biara, Jo."
 "Rumah it tidak diciptakan untuk menakhlukkan penghuninya."
"Meski untuk kekasihnya sendiri?"
"Ia tidak akan merebutmu jika membuat luka bagi laki-laki lain."
Anne memandangku lekat-lekat. "Jo, nyanikan untukku sebuah lagu. Maukah kau, Jo manis? Aku bilang, kau anak kampung yang baik. Oh, kalau saja....."
"Kalau saja apa Anne?"
"Ah lupakan itu, Jo." Tapi kemudian ia menyambungnya lagi dengan terbata-bata. "Kalau saja matahari tiba-tiba melintas di atas Leiden dan mencairkan salju dengan cowok-cowoknya. Atau kalau saja Mama Margareth tiba-tiba muncul di pintu dan menyanyikan lagu Selamat Malam, Baby."
Anne kemudian bernyanyi keras-keras. Aku menutup gorden dan mengenang Sarinah.
Leiden berbalut malam. Tanpa bulan. Hanya satu bintang kecil tepat di atas kota. Sedikit buram, memberi rasa sunyi.
 "Jo."
"Hmm."
"Bisakah kau membayangkan kita berbaring di bintang, lalu orang-orang di bumi memandangi kita?" 
Aku menatap Anne selintas, lalu beralih pada malam di luar jendela.
"Ku kira Profesor Lingk yang pertama kaget," ujarku. "Kau tahu, ia selalu menyepelekanku dalam Filsafat Seni. Ia tak pernah memandangku tanpa perendahan laki-laki Asia."
"Seorang laki-laki Asia dan gadis Amsterdam berbaring di bintang kota Leiden. Bumi akan tampak seperti bola golf. Jo, kau bisa melompat dari sana dan jatuh di tanah Jawa. Mungkin jga tepat di pematang sawahmu. Bisakah kau bayangkan, Jo?"
"Maaf Anne. Aku tak pernah sejauh itu," Jawabku. Dan kuingat kampung kecilku di Yogya, pada bangku bambu di bawah pohon jambu setiap aku melewatkan malam terang bulan bersama Sarinah.
"Jo," panggilnya, sambil terus saja menuangkan liqueur ke dalam gelasnya. Buihnya melimpah sampai ke lantai. "Kau tahu apa kata Vollen tentang kau?"
"Entahlah, Anne. Mungkin ia bilang aku seorang yang lemah untuk Sejarah KebudayaanYunani."
"Katanya kau tipe pencinta yang luar biasa."
"Aku bukan pelukis Anne. Kau tahu maksud ku bukan?" 
"Kau kira hanya seniman yang bisa menjadi penakhluk-penakhluk besar?
Basten, bekas pacarku itu, kau sudah sering mendengar ini, kan? Dia budak angka-angka, tapi dia menakhlukan banyak gadis sebelum merebutku dulu." Dan setelah merapatkan gorden, ia kemudian melanjutkan. "Vollen juga pernah bilang kau terlalu lembut untuk ukuran gadis Eropa."
          "Kami diciptakan untuk mendampingi gadis-gadis khas Asia," ungkapku sedikit kaku.
"Lamban, patuh, setia. Ouuhh.. Jo, tak bisa kubayangkan jika saja Basten bercinta dengan mereka. Kau tahu mengapa kami berpisah, kan? Katanya aku tidak dinamis." Anne mereguk gelasnya, bibirnya basah. "Dinamis. Lucu ya, Jo! Bisakah kita mengubah seseorang? Tidak mungin! Dan kukatakan padanya. Bast, aku mungkin tidak diciptakan untuk cowok seperti kamu. Dan sudah kuduga, dia seorang yang mudah mengerti untuk menutup sebuah cinta."
"Aku tidak tahu mengapa kau sampai tertarik padanya," cetusku. Rokok kupasang. Kretek tentu saja. Aku tak suka rokok putih. Tidak membantu hangat.
"Jo, bukan perempuan kalau tidak tertarik pada dia. Dia punya segalanya untuk merebut hati gadis-gadis. Dansa, humor, dan cuek."
"Dan bukan Basten kalau bukan penyerbu," aku menambahkan.
Anne mangangguk. Lalu kudengar ia bernyanyi-nyanyi kecil mirip gumaman. aku tak tahu dimana ia mendengar lagu itu. Mungkin lagu rakyat di kota asalnya, Amsterdam.
"Jo, kau kedinginan? Kau mau kubuatkan liqueur? tiba-tiba ia menyentuh lenganku. 
"Tidak usah, Anne. Kalau kau mau, kukira aku lebih suka kamu membuatkanku kopi untukku."
Ia tersenyum dan beranjak ke dapur. Dipintu ia masih sempat berujar, "Kau anak yang manis Jo."
Tapi pikiranku? Ah, Yogya sering merebut lamunanku hari-hari terakhir ini. Juga Sarinah. Tiba-tiba aku ingin menggoda gadis bermata teduh itu. Kukira ia bukan lagi gadis malu-malu yang biasa kutemui di simpang dekat jembatan bambu.
Anne kemudian muncul membawa segelas kopi. Aku bilang terima kasih untuk perhatiannya. 
"Jo," panggilnya lagi. "Bagaimana pendapatmu jika Jeanne tiba-tiba menyatakan cinta padamu?"
"Ohh maaf, Anne. Ku kira aku tak pernah memperhatikan sejauh itu."
"Dia gadis Perancis yang baik, Jo. Sedikit konsevatif dan melankolik. Rasanya dia cocok untuk laki-laki Asia sepertimu."
 "Berikan saja pada Mambo. Kupikir dia akan lebih cocok dengan laki-laki Afrika itu."
"Ah, Jo, bukan sifatku mencomblangi orang," elaknya. Tapi kemudian dia menyambungnya lagi dengan antusias setelah mereguk gelasnya. "Dia gadis Selatan yang manis, pemalu, tak bisa dansa, tapi punya keinginan besar untuk mengabdikan dirina pada laki-laki." Ia pun kemudian tertawa keras-keras.
"Rokok kutarik. Sarinah masih juga menyelinap. Gadis itu kutemukan menari-nari disetiap asap yang kuhembuskan. Juga wajah Ibuku. matanya dalam. Dan seperti kata Anne, kutemukan pengabdian yang besar dalam diri mereka, sebuah cinta yang tak habis-habis.
"Jo."
Aku menatapnya sedikit terkejut.
"Bagaiman pendapatmu tentang aku?"
"Kau anak yang baik, Anne," kataku buru-buru.
"Basten pernah bilang, hidungku kekecilan. Sejak saat itu aku sering memikirkan hidungku. Betul begitu, Jo?"
"Aku bilang kau anak yang baik, Anne."
"Jo!" Ia menatapku tajam.
 "Oh, maaf Anne. Kukira aku sedikit tegang. Kau tahu, salju membuatku cemas.
"Betul hidungku kekecilan?"
"Kau gadis Eropa yang menarik, Anne. Hidung gadis-gadis Asia juga kecil. Tapi mereka bisa memikat hati laki-laki.
Anne tertawa. Rambutnya mengerbas berkali-ki. Lantas muncul saja pikiran buruk dalam benakku. Bagaimana jika tiba-tiba ia menemukan kupingnya yang penuh salju?
"Jo, kau tahu aku merencanakan apa untuk kita?"
"Ouhh, apa Anne?"
"Tebak lah, Jo manis!"
"Anne, kau tahu aku tidak bisa berfikir dalam cuaca begini?"
Ia memegang tanganku. Matanya berbinar-binar.
"Jo, aku merencanakan kta berlibur ke Austria di hari ulang tahunmu nanti. Kejutan, kan? Aku janji akan memberi saat-saat yang palung romantis dalam hidupmu. Edelweis, opera, konser. Hmm, bisakah kau membayangkannya, Jo?"
Anne melemparkan sepatu dan mantelnya ke sudut kamar, lalu kembali memainkan putaran-putaran balet klasik. Tapi Sarinah merebutkulagi. Aku menemukannya menari-nari di langit-langit kamar. Pandangannya buram, menyimpan kasih yang dalam.


Kamis, 07 Februari 2013

Surat Kepercayaan Gelanggang


Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.
Keindonesiaan kami tidak semata-semata karena kulit kami sawo matang, rambut kami yang hitam, atau pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kami tidak akan memberikan suatu kata ikatan untuk kebudayaan lama sampai berkilat untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu enghidupan kebudayaan baru yang sehat. kebudayaan indonesia ditetapkan kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara-suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha-usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikianlah kami berpendapat bahwa revolusi di tanah air sendiri belum selesai.

Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli, yang pokok bagi kami temui ialah manusia. Dalam cara mencari, membahas, dan menelaah kami membawa sifat sendiri.

Penghargaan kami terhadap keadaan sekeliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.





Jakarta, 18 Februari 1950
(Dikutip asli dari Ajip Rosidi, 1991 :85)