Angin berhembus dari arah Eropa Selatan,
melintasi pegunungan Alpen yang menjulang di perbatasan Italia dan Swiss. Udara
membawa butir-butir salju, menebar di sepanjang negeri Belanda, di lapangan
rumput, dan tulip, dan sebuah flat : Herenstraat 132.
Anne masih saja menuangkan Mansion ke
dalam gelasnya. Entah sudah berapa kali ia menjejali mulutnya dengan anggur
Jamaika itu, sejak salju pertama turun awal Desember lalu.
"Ayolah Jo, ini lebih enak dari kopi
Sumatra-mu," katanya bangga. "Gurih dan memberi rasa
hangat."
"Juga memberi rasa mual,"
sambutku. Dia tertawa. Bibirnya melengkung di sudut. "Mau kutambahkan sedikit
bir, Jo?". Aku menggeleng.
"Mungkin rempah atau sari buah?
Kujamin mualmu bakal hilang !". Sekali lagi aku menolak. Anggur Jamaika
selalu membuat perutku mual. Kopi dan bubuk teh lebih banyak merebut pagiku.
Dan gadis ini selalu terbahak-bahak setiap kali aku menyeduhnya.
"Jo.
"Ya."
"Bisakah kau membayangkan aku
kehabisan gin di musim salju ini?". "Kukira kau akan memeras Tulip
dan memeras sarinya."
"Dia tertawa, lantas menarik
gorden. Leiden terpampang berlumur salju. Fakultas Sastra dan Filsafat
terbungkus putih, seperti menyambut turunnya bidadari. Dan tiba-tiba aku hanya
bisa tersenyum ketika ingat kata Sulasro dulu. Katanya bidadari Eropa lebih
putih karena sering terkurung salju, tapi terlalu kaku untuk ukuran Asia.
"Kau lihat salju itu, Jo?"
Anne menunjuk ke luar jendela kaca. Salju menaburi jalanan sepanjang asrama
mahasiswa yang tegak di tengah kota. Beberapa mahasiswa menyebrangi perempatan
jalan Langeburg. Kebanyakan berpayung dan mantel, bahkan sepatu bot.
Salju memang tidak seganas biasanya di
bulan Januari. Orang masih bisa merayakan natal dan Tahun Baru di taman-taman
kota. Bahkan beberapa mahasiswa meyempatkan diri berlibur ke Paris dan Swiss.
Mereka tidak harus terkurung di flatnya yang sumpek.
Anne memegang tanganku. Jemarina dingin.
Dan kuingat lagi legenda bidadari Eropa itu.
"Salju memberi rasa aman,
tenang, seperti menjanjikan pertemuan yang mengesankan," cetus Anna
puitis. "Kau suka, Jo? Ini saat yang paling tepat untuk memulai percintaan
romantis."
"Kukira kabut pagi di Indonesia lebih
indah lag dari pada saljumu," aku membandingkan.
Dia menatapku. Rambut pirangnya mengerebas
sampai ke bahu. Aku meraih Angrek yang menguning di sisi jendela, lalu
melemparnya ke jalanan.
"Kau tahu, Jo? Tak ada yang menarik
perhatianku melebihi salju. Putih, basah, seperti cinta yang dalam."
"Kau belum melihat puncak
Tidar, Anne. Gunung paling romantis di negeriku. Sebuah telaga, sungai jernih,
dan Edelweis. Kau pasti bilang terlalu indah untuk pasangan yang
bersahabat." Anne mengulum senyum.
"Kau tidak sedang mimpi Salzburg,
kan?" tudingnya. Ia sering cerita tentang pesona Berry dan Edelweis
Austria di musim salju.
"Kau kira hanya Austria yang kaya
Edelweis?" sergahku. "Indonesia gudangnya bunga-bunga cantik.
Coba, bunga apa yang bisa membuatmu tertawa! Kaktus? Asoka? Kau bisa menemukan
semuanya di sana. Mereka jauh lebih anggun dari gadis-gadis Amsterdam."
Anne menggeleng. senyum sempitnya
mempertontonkan keyakinan diri yang luar biasa. "Aku tak yakin sebuah
bunga akan berkembang baik dalam masyarakat yang begitu primitif,"
Ujarnya.
Aku tertawa keras-keras. "Dinegeri
ini Tulip lebih unggul dari gadis-gadisnya," balasku.
Anne mengibaskan tangannya berkali-kali.
Dan seraya menatapku dalam-dalam, ia berujar, "Kau tahu, Jo? Aku melihat
pantai Yogya di matamu, berombak agresif dan penuh mistik." Dan ketika ia
memainkan dua putaran balet klasik, tak bisa aku menahan tawa. Mataku mengerjap
berkali-kali.
"Kau tahu apa yang ada dalam
pikiranku, Anne?" Aku menyentuh bahunya.
"Kau membayangkan krakatau meletus
dan Batavia babak belur." Aku menggeleng.
"Ku pikir kau lebih bagus mendalami
seni balet klasik dan cabut dari astra Timur," cetusku. Ia mengupas senyum
dikulum. "Jo, kau tahu kemana aku disiapkan dulu?" "Biarawati.
Kau sudah berapa kali mengatakan itu. Dan ku bilang kau tak akan pernah jadi
biarawati.
"Karena aku bandel.
"Karena akan banyak laki-laki yang
akan mengejarmu ke biara."
"Tuhan bisa mengunci ku di biara,
Jo."
"Rumah it tidak diciptakan untuk
menakhlukkan penghuninya."
"Meski untuk kekasihnya
sendiri?"
"Ia tidak akan merebutmu jika membuat
luka bagi laki-laki lain."
Anne memandangku lekat-lekat. "Jo,
nyanikan untukku sebuah lagu. Maukah kau, Jo manis? Aku bilang, kau anak
kampung yang baik. Oh, kalau saja....."
"Kalau saja apa Anne?"
"Ah lupakan itu, Jo." Tapi
kemudian ia menyambungnya lagi dengan terbata-bata. "Kalau saja matahari
tiba-tiba melintas di atas Leiden dan mencairkan salju dengan cowok-cowoknya.
Atau kalau saja Mama Margareth tiba-tiba muncul di pintu dan menyanyikan lagu Selamat Malam, Baby."
Anne kemudian bernyanyi keras-keras. Aku
menutup gorden dan mengenang Sarinah.
Leiden berbalut malam. Tanpa bulan. Hanya
satu bintang kecil tepat di atas kota. Sedikit buram, memberi rasa sunyi.
"Jo."
"Hmm."
"Bisakah kau membayangkan kita
berbaring di bintang, lalu orang-orang di bumi memandangi kita?"
Aku menatap Anne selintas, lalu beralih
pada malam di luar jendela.
"Ku kira Profesor Lingk yang pertama
kaget," ujarku. "Kau tahu, ia selalu menyepelekanku dalam Filsafat
Seni. Ia tak pernah memandangku tanpa perendahan laki-laki Asia."
"Seorang laki-laki Asia dan gadis
Amsterdam berbaring di bintang kota Leiden. Bumi akan tampak seperti bola golf.
Jo, kau bisa melompat dari sana dan jatuh di tanah Jawa. Mungkin jga tepat di
pematang sawahmu. Bisakah kau bayangkan, Jo?"
"Maaf Anne. Aku tak pernah sejauh
itu," Jawabku. Dan kuingat kampung kecilku di Yogya, pada bangku bambu di
bawah pohon jambu setiap aku melewatkan malam terang bulan bersama Sarinah.
"Jo," panggilnya, sambil terus
saja menuangkan liqueur ke dalam gelasnya. Buihnya melimpah sampai ke lantai.
"Kau tahu apa kata Vollen tentang kau?"
"Entahlah, Anne. Mungkin ia bilang
aku seorang yang lemah untuk Sejarah KebudayaanYunani."
"Katanya kau tipe pencinta yang luar
biasa."
"Aku bukan pelukis Anne. Kau tahu
maksud ku bukan?"
"Kau kira hanya seniman yang bisa menjadi
penakhluk-penakhluk besar?
Basten, bekas pacarku itu, kau sudah
sering mendengar ini, kan? Dia budak angka-angka, tapi dia menakhlukan banyak
gadis sebelum merebutku dulu." Dan setelah merapatkan gorden, ia kemudian
melanjutkan. "Vollen juga pernah bilang kau terlalu lembut untuk ukuran
gadis Eropa."
"Kami diciptakan
untuk mendampingi gadis-gadis khas Asia," ungkapku sedikit kaku.
"Lamban, patuh, setia. Ouuhh.. Jo,
tak bisa kubayangkan jika saja Basten bercinta dengan mereka. Kau tahu mengapa
kami berpisah, kan? Katanya aku tidak dinamis." Anne mereguk gelasnya,
bibirnya basah. "Dinamis. Lucu ya, Jo! Bisakah kita mengubah seseorang?
Tidak mungin! Dan kukatakan padanya. Bast, aku mungkin tidak diciptakan untuk
cowok seperti kamu. Dan sudah kuduga, dia seorang yang mudah mengerti untuk
menutup sebuah cinta."
"Aku tidak tahu mengapa kau sampai
tertarik padanya," cetusku. Rokok kupasang. Kretek tentu saja. Aku tak
suka rokok putih. Tidak membantu hangat.
"Jo, bukan perempuan kalau tidak
tertarik pada dia. Dia punya segalanya untuk merebut hati gadis-gadis. Dansa,
humor, dan cuek."
"Dan bukan Basten kalau bukan
penyerbu," aku menambahkan.
Anne mangangguk. Lalu kudengar ia
bernyanyi-nyanyi kecil mirip gumaman. aku tak tahu dimana ia mendengar lagu
itu. Mungkin lagu rakyat di kota asalnya, Amsterdam.
"Jo, kau kedinginan? Kau mau
kubuatkan liqueur? tiba-tiba ia menyentuh lenganku.
"Tidak usah, Anne. Kalau kau mau,
kukira aku lebih suka kamu membuatkanku kopi untukku."
Ia tersenyum dan beranjak ke dapur.
Dipintu ia masih sempat berujar, "Kau anak yang manis Jo."
Tapi pikiranku? Ah, Yogya sering merebut
lamunanku hari-hari terakhir ini. Juga Sarinah. Tiba-tiba aku ingin menggoda
gadis bermata teduh itu. Kukira ia bukan lagi gadis malu-malu yang biasa
kutemui di simpang dekat jembatan bambu.
Anne kemudian muncul membawa segelas kopi.
Aku bilang terima kasih untuk perhatiannya.
"Jo," panggilnya lagi.
"Bagaimana pendapatmu jika Jeanne tiba-tiba menyatakan cinta padamu?"
"Ohh maaf, Anne. Ku kira aku tak
pernah memperhatikan sejauh itu."
"Dia gadis Perancis yang baik, Jo.
Sedikit konsevatif dan melankolik. Rasanya dia cocok untuk laki-laki Asia
sepertimu."
"Berikan saja pada Mambo.
Kupikir dia akan lebih cocok dengan laki-laki Afrika itu."
"Ah, Jo, bukan sifatku mencomblangi
orang," elaknya. Tapi kemudian dia menyambungnya lagi dengan antusias
setelah mereguk gelasnya. "Dia gadis Selatan yang manis, pemalu, tak bisa
dansa, tapi punya keinginan besar untuk mengabdikan dirina pada
laki-laki." Ia pun kemudian tertawa keras-keras.
"Rokok kutarik. Sarinah masih juga
menyelinap. Gadis itu kutemukan menari-nari disetiap asap yang kuhembuskan.
Juga wajah Ibuku. matanya dalam. Dan seperti kata Anne, kutemukan pengabdian
yang besar dalam diri mereka, sebuah cinta yang tak habis-habis.
"Jo."
Aku menatapnya sedikit terkejut.
"Bagaiman pendapatmu tentang
aku?"
"Kau anak yang baik, Anne,"
kataku buru-buru.
"Basten pernah bilang, hidungku
kekecilan. Sejak saat itu aku sering memikirkan hidungku. Betul begitu,
Jo?"
"Aku bilang kau anak yang baik,
Anne."
"Jo!" Ia menatapku tajam.
"Oh, maaf Anne. Kukira aku
sedikit tegang. Kau tahu, salju membuatku cemas.
"Betul hidungku kekecilan?"
"Kau gadis Eropa yang menarik, Anne.
Hidung gadis-gadis Asia juga kecil. Tapi mereka bisa memikat hati laki-laki.
Anne tertawa. Rambutnya mengerbas
berkali-ki. Lantas muncul saja pikiran buruk dalam benakku. Bagaimana jika
tiba-tiba ia menemukan kupingnya yang penuh salju?
"Jo, kau tahu aku merencanakan apa
untuk kita?"
"Ouhh, apa Anne?"
"Tebak lah, Jo manis!"
"Anne, kau tahu aku tidak bisa
berfikir dalam cuaca begini?"
Ia memegang tanganku. Matanya
berbinar-binar.
"Jo, aku merencanakan kta berlibur ke
Austria di hari ulang tahunmu nanti. Kejutan, kan? Aku janji akan memberi
saat-saat yang palung romantis dalam hidupmu. Edelweis, opera, konser. Hmm,
bisakah kau membayangkannya, Jo?"
Anne melemparkan sepatu dan mantelnya ke
sudut kamar, lalu kembali memainkan putaran-putaran balet klasik. Tapi Sarinah
merebutkulagi. Aku menemukannya menari-nari di langit-langit kamar.
Pandangannya buram, menyimpan kasih yang dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar