Pages

Sabtu, 09 Februari 2013

Kasih yang Dalam


       Angin berhembus dari arah Eropa Selatan, melintasi pegunungan Alpen yang menjulang di perbatasan Italia dan Swiss. Udara membawa butir-butir salju, menebar di sepanjang negeri Belanda, di lapangan rumput, dan tulip, dan sebuah flat : Herenstraat 132.
Anne masih saja menuangkan Mansion ke dalam gelasnya. Entah sudah berapa kali ia menjejali mulutnya dengan anggur Jamaika itu, sejak salju pertama turun awal Desember lalu.
"Ayolah Jo, ini lebih enak dari kopi Sumatra-mu," katanya bangga. "Gurih dan memberi rasa hangat." 
"Juga memberi rasa mual," sambutku. Dia tertawa. Bibirnya melengkung di sudut. "Mau kutambahkan sedikit bir, Jo?". Aku menggeleng.
"Mungkin rempah atau sari buah? Kujamin mualmu bakal hilang !". Sekali lagi aku menolak. Anggur Jamaika selalu membuat perutku mual. Kopi dan bubuk teh lebih banyak merebut pagiku. Dan gadis ini selalu terbahak-bahak setiap kali aku menyeduhnya.
"Jo.
 "Ya."
 "Bisakah kau membayangkan aku kehabisan gin di musim salju ini?". "Kukira kau akan memeras Tulip dan memeras sarinya."
 "Dia tertawa, lantas menarik gorden. Leiden terpampang berlumur salju. Fakultas Sastra dan Filsafat terbungkus putih, seperti menyambut turunnya bidadari. Dan tiba-tiba aku hanya bisa tersenyum ketika ingat kata Sulasro dulu. Katanya bidadari Eropa lebih putih karena sering terkurung salju, tapi terlalu kaku untuk ukuran Asia.
 "Kau lihat salju itu, Jo?" Anne menunjuk ke luar jendela kaca. Salju menaburi jalanan sepanjang asrama mahasiswa yang tegak di tengah kota. Beberapa mahasiswa menyebrangi perempatan jalan Langeburg. Kebanyakan berpayung dan mantel, bahkan sepatu bot.
Salju memang tidak seganas biasanya di bulan Januari. Orang masih bisa merayakan natal dan Tahun Baru di taman-taman kota. Bahkan beberapa mahasiswa meyempatkan diri berlibur ke Paris dan Swiss. Mereka tidak harus terkurung di flatnya yang sumpek.
Anne memegang tanganku. Jemarina dingin. Dan kuingat lagi legenda bidadari Eropa itu.
 "Salju memberi rasa aman, tenang, seperti menjanjikan pertemuan yang mengesankan," cetus Anna puitis. "Kau suka, Jo? Ini saat yang paling tepat untuk memulai percintaan romantis."
"Kukira kabut pagi di Indonesia lebih indah lag dari pada saljumu," aku membandingkan.
Dia menatapku. Rambut pirangnya mengerebas sampai ke bahu. Aku meraih Angrek yang menguning di sisi jendela, lalu melemparnya ke jalanan.
 "Kau tahu, Jo? Tak ada yang menarik perhatianku melebihi salju. Putih, basah, seperti cinta yang dalam."
 "Kau belum melihat puncak Tidar, Anne. Gunung paling romantis di negeriku. Sebuah telaga, sungai jernih, dan Edelweis. Kau pasti bilang terlalu indah untuk pasangan yang bersahabat." Anne mengulum senyum.
"Kau tidak sedang mimpi Salzburg, kan?" tudingnya. Ia sering cerita tentang pesona Berry dan Edelweis Austria di musim salju.
"Kau kira hanya Austria yang kaya Edelweis?" sergahku. "Indonesia gudangnya  bunga-bunga cantik. Coba, bunga apa yang bisa membuatmu tertawa! Kaktus? Asoka? Kau bisa menemukan semuanya di sana. Mereka jauh lebih anggun dari gadis-gadis Amsterdam."
Anne menggeleng. senyum sempitnya mempertontonkan keyakinan diri yang luar biasa. "Aku tak yakin sebuah bunga akan berkembang baik dalam masyarakat yang begitu primitif," Ujarnya.
Aku tertawa keras-keras. "Dinegeri ini Tulip lebih unggul dari gadis-gadisnya," balasku.
Anne mengibaskan tangannya berkali-kali. Dan seraya menatapku dalam-dalam, ia berujar, "Kau tahu, Jo? Aku melihat pantai Yogya di matamu, berombak agresif dan penuh mistik." Dan ketika ia memainkan dua putaran balet klasik, tak bisa aku menahan tawa. Mataku mengerjap berkali-kali.
"Kau tahu apa yang ada dalam pikiranku, Anne?" Aku menyentuh bahunya.
"Kau membayangkan krakatau meletus dan Batavia babak belur." Aku menggeleng.
"Ku pikir kau lebih bagus mendalami seni balet klasik dan cabut dari astra Timur," cetusku. Ia mengupas senyum dikulum. "Jo, kau tahu kemana aku disiapkan dulu?" "Biarawati. Kau sudah berapa kali mengatakan itu. Dan ku bilang kau tak akan pernah jadi biarawati.
"Karena aku bandel.
"Karena akan banyak laki-laki yang akan mengejarmu ke biara."
"Tuhan bisa mengunci ku di biara, Jo."
 "Rumah it tidak diciptakan untuk menakhlukkan penghuninya."
"Meski untuk kekasihnya sendiri?"
"Ia tidak akan merebutmu jika membuat luka bagi laki-laki lain."
Anne memandangku lekat-lekat. "Jo, nyanikan untukku sebuah lagu. Maukah kau, Jo manis? Aku bilang, kau anak kampung yang baik. Oh, kalau saja....."
"Kalau saja apa Anne?"
"Ah lupakan itu, Jo." Tapi kemudian ia menyambungnya lagi dengan terbata-bata. "Kalau saja matahari tiba-tiba melintas di atas Leiden dan mencairkan salju dengan cowok-cowoknya. Atau kalau saja Mama Margareth tiba-tiba muncul di pintu dan menyanyikan lagu Selamat Malam, Baby."
Anne kemudian bernyanyi keras-keras. Aku menutup gorden dan mengenang Sarinah.
Leiden berbalut malam. Tanpa bulan. Hanya satu bintang kecil tepat di atas kota. Sedikit buram, memberi rasa sunyi.
 "Jo."
"Hmm."
"Bisakah kau membayangkan kita berbaring di bintang, lalu orang-orang di bumi memandangi kita?" 
Aku menatap Anne selintas, lalu beralih pada malam di luar jendela.
"Ku kira Profesor Lingk yang pertama kaget," ujarku. "Kau tahu, ia selalu menyepelekanku dalam Filsafat Seni. Ia tak pernah memandangku tanpa perendahan laki-laki Asia."
"Seorang laki-laki Asia dan gadis Amsterdam berbaring di bintang kota Leiden. Bumi akan tampak seperti bola golf. Jo, kau bisa melompat dari sana dan jatuh di tanah Jawa. Mungkin jga tepat di pematang sawahmu. Bisakah kau bayangkan, Jo?"
"Maaf Anne. Aku tak pernah sejauh itu," Jawabku. Dan kuingat kampung kecilku di Yogya, pada bangku bambu di bawah pohon jambu setiap aku melewatkan malam terang bulan bersama Sarinah.
"Jo," panggilnya, sambil terus saja menuangkan liqueur ke dalam gelasnya. Buihnya melimpah sampai ke lantai. "Kau tahu apa kata Vollen tentang kau?"
"Entahlah, Anne. Mungkin ia bilang aku seorang yang lemah untuk Sejarah KebudayaanYunani."
"Katanya kau tipe pencinta yang luar biasa."
"Aku bukan pelukis Anne. Kau tahu maksud ku bukan?" 
"Kau kira hanya seniman yang bisa menjadi penakhluk-penakhluk besar?
Basten, bekas pacarku itu, kau sudah sering mendengar ini, kan? Dia budak angka-angka, tapi dia menakhlukan banyak gadis sebelum merebutku dulu." Dan setelah merapatkan gorden, ia kemudian melanjutkan. "Vollen juga pernah bilang kau terlalu lembut untuk ukuran gadis Eropa."
          "Kami diciptakan untuk mendampingi gadis-gadis khas Asia," ungkapku sedikit kaku.
"Lamban, patuh, setia. Ouuhh.. Jo, tak bisa kubayangkan jika saja Basten bercinta dengan mereka. Kau tahu mengapa kami berpisah, kan? Katanya aku tidak dinamis." Anne mereguk gelasnya, bibirnya basah. "Dinamis. Lucu ya, Jo! Bisakah kita mengubah seseorang? Tidak mungin! Dan kukatakan padanya. Bast, aku mungkin tidak diciptakan untuk cowok seperti kamu. Dan sudah kuduga, dia seorang yang mudah mengerti untuk menutup sebuah cinta."
"Aku tidak tahu mengapa kau sampai tertarik padanya," cetusku. Rokok kupasang. Kretek tentu saja. Aku tak suka rokok putih. Tidak membantu hangat.
"Jo, bukan perempuan kalau tidak tertarik pada dia. Dia punya segalanya untuk merebut hati gadis-gadis. Dansa, humor, dan cuek."
"Dan bukan Basten kalau bukan penyerbu," aku menambahkan.
Anne mangangguk. Lalu kudengar ia bernyanyi-nyanyi kecil mirip gumaman. aku tak tahu dimana ia mendengar lagu itu. Mungkin lagu rakyat di kota asalnya, Amsterdam.
"Jo, kau kedinginan? Kau mau kubuatkan liqueur? tiba-tiba ia menyentuh lenganku. 
"Tidak usah, Anne. Kalau kau mau, kukira aku lebih suka kamu membuatkanku kopi untukku."
Ia tersenyum dan beranjak ke dapur. Dipintu ia masih sempat berujar, "Kau anak yang manis Jo."
Tapi pikiranku? Ah, Yogya sering merebut lamunanku hari-hari terakhir ini. Juga Sarinah. Tiba-tiba aku ingin menggoda gadis bermata teduh itu. Kukira ia bukan lagi gadis malu-malu yang biasa kutemui di simpang dekat jembatan bambu.
Anne kemudian muncul membawa segelas kopi. Aku bilang terima kasih untuk perhatiannya. 
"Jo," panggilnya lagi. "Bagaimana pendapatmu jika Jeanne tiba-tiba menyatakan cinta padamu?"
"Ohh maaf, Anne. Ku kira aku tak pernah memperhatikan sejauh itu."
"Dia gadis Perancis yang baik, Jo. Sedikit konsevatif dan melankolik. Rasanya dia cocok untuk laki-laki Asia sepertimu."
 "Berikan saja pada Mambo. Kupikir dia akan lebih cocok dengan laki-laki Afrika itu."
"Ah, Jo, bukan sifatku mencomblangi orang," elaknya. Tapi kemudian dia menyambungnya lagi dengan antusias setelah mereguk gelasnya. "Dia gadis Selatan yang manis, pemalu, tak bisa dansa, tapi punya keinginan besar untuk mengabdikan dirina pada laki-laki." Ia pun kemudian tertawa keras-keras.
"Rokok kutarik. Sarinah masih juga menyelinap. Gadis itu kutemukan menari-nari disetiap asap yang kuhembuskan. Juga wajah Ibuku. matanya dalam. Dan seperti kata Anne, kutemukan pengabdian yang besar dalam diri mereka, sebuah cinta yang tak habis-habis.
"Jo."
Aku menatapnya sedikit terkejut.
"Bagaiman pendapatmu tentang aku?"
"Kau anak yang baik, Anne," kataku buru-buru.
"Basten pernah bilang, hidungku kekecilan. Sejak saat itu aku sering memikirkan hidungku. Betul begitu, Jo?"
"Aku bilang kau anak yang baik, Anne."
"Jo!" Ia menatapku tajam.
 "Oh, maaf Anne. Kukira aku sedikit tegang. Kau tahu, salju membuatku cemas.
"Betul hidungku kekecilan?"
"Kau gadis Eropa yang menarik, Anne. Hidung gadis-gadis Asia juga kecil. Tapi mereka bisa memikat hati laki-laki.
Anne tertawa. Rambutnya mengerbas berkali-ki. Lantas muncul saja pikiran buruk dalam benakku. Bagaimana jika tiba-tiba ia menemukan kupingnya yang penuh salju?
"Jo, kau tahu aku merencanakan apa untuk kita?"
"Ouhh, apa Anne?"
"Tebak lah, Jo manis!"
"Anne, kau tahu aku tidak bisa berfikir dalam cuaca begini?"
Ia memegang tanganku. Matanya berbinar-binar.
"Jo, aku merencanakan kta berlibur ke Austria di hari ulang tahunmu nanti. Kejutan, kan? Aku janji akan memberi saat-saat yang palung romantis dalam hidupmu. Edelweis, opera, konser. Hmm, bisakah kau membayangkannya, Jo?"
Anne melemparkan sepatu dan mantelnya ke sudut kamar, lalu kembali memainkan putaran-putaran balet klasik. Tapi Sarinah merebutkulagi. Aku menemukannya menari-nari di langit-langit kamar. Pandangannya buram, menyimpan kasih yang dalam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar